palitaliawines.com – Bank Indonesia (BI) memutuskan menahan suku bunga acuan pada level 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Oktober 2025. Langkah ini dilakukan setelah enam kali penurunan sejak September 2024 dengan total pemangkasan 150 basis poin.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa kebijakan ini bersifat jeda sementara, bukan akhir dari siklus pelonggaran moneter. BI ingin memastikan efektivitas pemangkasan sebelumnya tersalurkan ke sektor riil dan kredit perbankan.
Alasan BI Menunda Pemangkasan Suku Bunga
Keputusan BI mempertahankan suku bunga dipengaruhi oleh stabilitas nilai tukar rupiah yang sempat tertekan akibat arus keluar modal asing. Berdasarkan data BI, terjadi capital outflow sebesar USD 5,26 miliar pada periode September hingga 20 Oktober 2025.
Selain itu, transmisi kebijakan moneter masih belum optimal. Hingga saat ini, suku bunga kredit perbankan baru turun sekitar 15 basis poin, jauh dari harapan setelah serangkaian pemangkasan suku bunga acuan.
Baca Juga: “Prabowo Dorong Menteri Pakai Maung, Purbaya Siapkan Dana“
Inflasi dan Prospek Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Inflasi nasional masih terkendali dalam kisaran 1,5 %–3,5 %, memberikan ruang bagi BI untuk melanjutkan pelonggaran di masa depan. BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun 2025 akan berada sedikit di atas titik tengah proyeksi 4,6 %–5,4 %, dengan prospek peningkatan pada 2026.
Dalam jangka menengah, fokus utama BI tetap pada stabilitas makroekonomi dan penguatan daya saing sektor keuangan domestik, terutama dalam mendukung investasi produktif dan pembiayaan UMKM.
Pernyataan Resmi dan Pandangan Pelaku Pasar
“Setelah enam kali pemangkasan, fokus kami kini adalah memperkuat transmisi kebijakan moneter,” ujar Perry Warjiyo dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (22/10/2025).
“Kami melihat masih ada ruang untuk pelonggaran lebih lanjut bila kondisi global dan domestik mendukung,” tambahnya.
Pelaku pasar menilai keputusan BI sejalan dengan pendekatan hati-hati di tengah ketidakpastian global. Analis dari OCBC NISP Sekuritas menyebut langkah ini dapat menstabilkan nilai tukar sambil menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali.
BI Siapkan Langkah Tambahan Dorong Kredit dan Likuiditas
BI juga mengisyaratkan akan meluncurkan instrumen likuiditas tambahan bagi perbankan untuk mempercepat penurunan suku bunga kredit. Kebijakan makroprudensial akan diperlonggar agar bank memiliki ruang lebih besar menyalurkan pembiayaan ke sektor produktif.
Selain itu, BI berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan untuk memperkuat kebijakan fiskal-moneter terpadu yang dapat menstimulus konsumsi dan investasi.
Outlook ke Depan: Peluang Pelonggaran Masih Terbuka
Para ekonom memprediksi BI berpotensi melanjutkan pemangkasan suku bunga pada kuartal I 2026 jika tekanan eksternal mereda dan nilai tukar rupiah stabil. Dengan inflasi yang masih rendah, ruang kebijakan moneter tetap luas untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
BI menegaskan, arah kebijakan ke depan akan bersifat adaptif dan data-dependent, dengan mempertimbangkan dinamika global seperti kebijakan suku bunga The Fed dan harga komoditas dunia.
Kesimpulan: BI Tetap Waspada Namun Pro-Pertumbuhan
Keputusan BI menahan suku bunga menunjukkan pendekatan berhati-hati namun tetap pro-pertumbuhan. Bank sentral ingin memastikan stabilitas makro terjaga tanpa menghambat pemulihan ekonomi nasional.
Jika tekanan global mereda dan transmisi kebijakan membaik, BI masih memiliki ruang untuk melanjutkan pelonggaran moneter di bulan-bulan mendatang.
Baca Juga: “Prabowo-Gibran Genap Setahun, Ekonomi Tunjukkan Perbaikan“




Leave a Reply