palitaliawines.com – Inisiatif Strategis Transportasi atau INSTRAN menilai subsidi bus listrik lebih berdampak bagi kepentingan publik.
Subsidi tersebut dianggap mampu mengurangi kemacetan sekaligus menekan polusi udara di Jakarta.
Pandangan ini disampaikan Pendiri INSTRAN, Ki Darmaningtyas, dalam diskusi transportasi awal tahun 2026.
Diskusi bertajuk Menjaga Keberlanjutan Layanan Angkutan Umum di Tengah Efisiensi Anggaran digelar di Jakarta.
Menurut Darmaningtyas, kebijakan subsidi perlu diarahkan pada transportasi massal.
Ia menilai bus listrik memberikan manfaat sosial yang lebih luas dibanding kendaraan pribadi listrik.
“Saya titip ke teman-teman jurnalis untuk disuarakan,” kata Darmaningtyas.
Ia menegaskan subsidi bus listrik lebih bermanfaat daripada mobil dan motor listrik.
Baca juga: “Penyimpanan Energi Bersih Jadi Prioritas SUN Energy 2026”
Darmaningtyas menjelaskan bus merupakan moda transportasi dengan daya angkut besar.
Satu unit bus dapat menggantikan puluhan kendaraan pribadi di jalan.
Karena itu, penggunaan bus dinilai lebih efektif mengurangi kepadatan lalu lintas.
Sebaliknya, mobil dan motor listrik tetap memakan ruang jalan yang sama.
Ia menilai subsidi kendaraan pribadi listrik berpotensi menambah jumlah kendaraan.
Kondisi tersebut justru bisa memperparah kemacetan di kawasan perkotaan.
“Kalau subsidi motor atau mobil listrik, kemacetannya akan bertambah,” ujarnya.
Menurutnya, penurunan polusi tidak sebanding dengan peningkatan kepadatan lalu lintas.
Darmaningtyas menekankan bahwa masalah utama Jakarta bukan hanya polusi udara.
Kemacetan kronis juga menjadi tantangan besar bagi mobilitas warga.
Kendaraan listrik memang dikenal lebih ramah lingkungan.
Emisi gas buang kendaraan listrik jauh lebih rendah dibanding kendaraan konvensional.
Namun, Darmaningtyas menilai aspek lingkungan perlu diseimbangkan dengan tata kelola transportasi.
Ia menilai kebijakan subsidi harus mempertimbangkan dampak jangka panjang.
Menurutnya, fokus pada kendaraan pribadi tetap bertentangan dengan prinsip transportasi berkelanjutan.
Transportasi berkelanjutan menekankan efisiensi ruang dan energi.
Bus listrik dinilai sejalan dengan prinsip tersebut.
Selain ramah lingkungan, bus listrik mendorong peralihan dari kendaraan pribadi.
Kebijakan ini juga dinilai lebih adil secara sosial.
Masyarakat luas dapat merasakan manfaat langsung dari subsidi tersebut.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai memperluas penggunaan bus listrik.
Dinas Perhubungan DKI menambah 200 unit bus listrik pada 2025.
Armada baru ini akan mendukung layanan Transjakarta dan Transjabodetabek.
Langkah ini bertujuan memperluas jangkauan transportasi massal.
Penambahan armada diharapkan meningkatkan kenyamanan dan keandalan layanan.
Bus listrik juga diharapkan menarik lebih banyak pengguna angkutan umum.
Peningkatan jumlah penumpang menjadi kunci pengurangan kendaraan pribadi.
Hal ini dinilai penting untuk menekan kemacetan harian di Jakarta.
Untuk mendukung operasional, Dishub DKI mengajukan tambahan subsidi.
Skema subsidi ini dikenal sebagai Public Service Obligation atau PSO.
Pengajuan dilakukan dalam APBD Perubahan 2025.
Nilai yang diajukan berkisar antara Rp300 miliar hingga Rp400 miliar.
Dana tersebut akan digunakan untuk layanan Transjakarta dan Transjabodetabek.
Subsidi bertujuan menjaga kualitas layanan di tengah tekanan efisiensi anggaran.
Dishub menilai subsidi penting untuk memastikan tarif tetap terjangkau.
Keterjangkauan tarif menjadi faktor penting meningkatkan minat masyarakat.
Diskusi ini berlangsung di tengah isu efisiensi belanja pemerintah.
Banyak sektor publik menghadapi penyesuaian anggaran.
Dalam konteks tersebut, prioritas kebijakan menjadi sangat penting.
Transportasi publik dinilai sebagai sektor strategis yang harus dijaga.
Kemacetan Jakarta menyebabkan kerugian ekonomi setiap tahun.
Berbagai studi menyebut kerugian mencapai puluhan triliun rupiah.
Selain kerugian ekonomi, kemacetan berdampak pada kesehatan masyarakat.
Waktu tempuh panjang meningkatkan stres dan menurunkan produktivitas.
INSTRAN mendorong pemerintah konsisten pada penguatan angkutan umum.
Subsidi bus listrik dinilai sebagai investasi jangka panjang.
Kebijakan ini dinilai mampu menciptakan kota yang lebih layak huni.
Peralihan ke transportasi massal menjadi kunci keberhasilan.
Darmaningtyas berharap suara ini diperhatikan pembuat kebijakan.
Ia menilai jurnalis memiliki peran penting menyampaikan pesan tersebut.
Ke depan, integrasi layanan dan perluasan jaringan menjadi tantangan utama.
Namun, bus listrik dinilai sebagai langkah awal yang tepat.
Dengan kebijakan yang konsisten, kemacetan dan polusi dapat ditekan bersamaan.
Transportasi publik yang kuat menjadi fondasi mobilitas Jakarta masa depan.
Baca juga: “Cara Naik Bus Listrik Medan Beserta Rute dan Tarifnya 2026”




Leave a Reply