palitaliawines.com – Israel gunakan jet F-16 dalam serangan udara yang menewaskan Dr. Marwan al-Sultan, direktur Rumah Sakit Indonesia di Gaza. Ahli jantung ini tewas bersama istri, putri, dan saudarinya saat misil menyasar ruangan tempat mereka berlindung. Kematiannya memperparah krisis layanan kesehatan di Gaza yang sudah porak-poranda.
“Baca juga : PBB Ungkap Perusahaan Pendukung Genosida Israel di Palestina”
Detik-Detik Serangan Maut
Menurut kesaksian putrinya, Lubna, serangan terjadi di apartemen Bundaran 17, Gaza Barat. “Hanya ruangan ayah saya yang dihantam,” ujarnya. Dr. Marwan tewas seketika bersama tiga anggota keluarganya. Suami Lubna, Muhammad Imad al-Sultan, juga menjadi korban dan dinyatakan hilang.
Dr. Marwan dikenal sebagai pejuang kemanusiaan. “Dia hanya merawat pasien, tak pernah memegang senjata,” tegas Lubna. Sebelum gugur, ia merekam pesan meminta Indonesia mendesak gencatan senjata.
Dampak Krisis Kesehatan Gaza
- Dr. Marwan adalah ahli jantung terakhir di Gaza.
- Lebih dari 1.400 tenaga medis tewas sejak Oktober 2023 (data PBB).
- 300 petugas kesehatan masih ditahan Israel, termasuk direktur RS Kamal Adwan (MedGlobal).
Muath Alser dari Healthcare Workers Watch menyebut kematian Dr. Marwan sebagai “kerugian besar bagi dunia medis.” Sistem kesehatan Gaza kini tinggal 10% rumah sakit yang beroperasi.
Respons Internasional dan Langkah ke Depan
Organisasi kemanusiaan mengecam serangan Israel gunakan jet F-16 ini sebagai pelanggaran hukum humaniter. PBB mendesak investigasi independen. Masyarakat internasional diharapkan meningkatkan tekanan untuk:
- Penghentian serangan terhadap fasilitas medis.
- Pembebasan tenaga kesehatan yang ditahan.
- Bantuan medis darurat untuk Gaza.
“Baca juga : Ahli Gizi Jelaskan Bahaya Konsumsi Air Rebusan Mi Instan”
Kematian Dr. Marwan mengingatkan dunia akan kegagalan perlindungan bagi pekerja kemanusiaan di zona konflik. Tanpa aksi nyata, ribuan nyawa sipil lain akan terus terancam.




Leave a Reply