PM Thailand Anutin

Ratu Sirikit Wafat, PM Thailand Anutin Tak Hadiri KTT ASEAN

palitaliawines.com — Thailand berduka. Ratu Ibu Sirikit Kitiyakara wafat di usia 93 tahun pada Jumat (24/10/2025) pukul 21.21 waktu setempat di Rumah Sakit Chulalongkorn, Bangkok.
Kabar duka ini disampaikan langsung oleh Biro Rumah Tangga Kerajaan Thailand pada Sabtu pagi dan dikonfirmasi oleh sejumlah media resmi, termasuk Reuters dan Bangkok Post.

Ratu Sirikit meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif selama sepekan akibat infeksi pada aliran darah.
Beliau dirawat sejak 7 September 2019 dan beberapa kali keluar masuk rumah sakit karena komplikasi kesehatan.
Kepergian Ratu Sirikit menandai akhir dari salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah modern monarki Thailand.

Baca Juga: “Purbaya Jadi Menteri Terbaik, Dinilai Layak Maju Pilpres 2029


Thailand Umumkan Masa Berkabung Nasional

Pemerintah Thailand langsung menetapkan masa berkabung nasional selama satu tahun.
Seluruh kantor pemerintahan, lembaga pendidikan, dan kedutaan besar Thailand di luar negeri diminta menurunkan bendera setengah tiang selama 30 hari sebagai tanda hormat.

Raja Maha Vajiralongkorn (Rama X) memerintahkan agar upacara penghormatan kenegaraan dilakukan di Istana Dusit Maha Prasat, Bangkok.
Seluruh anggota keluarga kerajaan dan pejabat tinggi negara diwajibkan mengenakan pakaian hitam hingga akhir masa berkabung.

“Ratu Sirikit adalah cahaya dan penjaga kebudayaan bangsa,” demikian pernyataan resmi kerajaan Thailand yang dikutip Reuters.
Raja juga meminta rakyat Thailand untuk menjaga persatuan dan menghormati warisan perjuangan almarhumah selama masa duka nasional.


PM Thailand Batal Hadiri KTT ASEAN

Sebagai bentuk penghormatan, Perdana Menteri Anutin Charnvirakul membatalkan kehadirannya dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-44 di Kuala Lumpur, Malaysia.
Anutin semula dijadwalkan hadir dalam pembukaan KTT pada 25 Oktober dan pertemuan lanjutan APEC di Singapura.

Menurut keterangan resmi Kantor Perdana Menteri Thailand, Anutin memilih tetap berada di Bangkok untuk memimpin upacara kenegaraan dan masa berkabung.
Sebagai pengganti, Menteri Luar Negeri Parnpree Bahiddha-Nukara akan mewakili Thailand di forum ASEAN dan APEC.

“Perdana Menteri memutuskan untuk menghormati Ratu Ibu, yang dianggap sebagai simbol nasional Thailand,” ujar juru bicara pemerintah dalam siaran pers yang dikutip Bangkok Post.


Dampak Diplomatik di ASEAN

Pembatalan kunjungan Anutin sempat menimbulkan penyesuaian jadwal di tingkat pimpinan ASEAN.
Thailand adalah salah satu negara kunci dalam pembahasan kerjasama perdagangan lintas kawasan dan penandatanganan nota kesepahaman keamanan perbatasan dengan Kamboja.

Meski demikian, KTT ASEAN tetap berjalan sesuai jadwal.
Perwakilan Thailand akan hadir dalam semua sesi, termasuk forum ekonomi dan pembahasan keamanan Laut China Selatan.
Sejumlah diplomat menilai keputusan Anutin tidak akan mengganggu stabilitas diplomasi kawasan, karena hubungan antarnegara tetap dijaga melalui komunikasi bilateral.

“Dalam budaya politik Thailand, duka kerajaan selalu ditempatkan di atas kepentingan diplomasi,” ujar analis hubungan internasional dari Universitas Thammasat, Dr. Nattapol Jiraphat.
“Absennya perdana menteri adalah bentuk penghormatan, bukan penarikan diri dari peran ASEAN,” tambahnya.


Sosok Ratu Sirikit: Ibu Bangsa Thailand

Ratu Sirikit dikenal luas sebagai pendamping setia Raja Bhumibol Adulyadej (Rama IX) dan ibu dari Raja Vajiralongkorn (Rama X).
Selama masa pemerintahannya, beliau aktif dalam berbagai kegiatan sosial, pelestarian budaya, dan pemberdayaan perempuan pedesaan.

Ratu Sirikit mendirikan SUPPORT Foundation pada 1976, organisasi yang melatih perempuan di wilayah pedalaman agar mandiri secara ekonomi.
Program tersebut menjadi salah satu warisan sosial terbesar di Asia Tenggara dan diakui oleh PBB atas kontribusinya terhadap pembangunan berkelanjutan.

Selain kiprahnya di dalam negeri, Ratu Sirikit juga dikenal sebagai ikon diplomasi dan mode internasional.
Selama kunjungan kenegaraan ke Eropa dan Amerika Serikat pada 1960-an, beliau mempopulerkan busana tradisional Thailand ke dunia internasional, dan dijuluki “Grace Kelly of Asia” oleh media Barat.


Reaksi Dunia Internasional

Kabar wafatnya Ratu Sirikit mendapat perhatian luas dari berbagai pemimpin dunia.
Presiden AS Joe Biden, PM Jepang Fumio Kishida, dan Presiden Indonesia Prabowo Subianto menyampaikan belasungkawa melalui pesan diplomatik resmi.
ASEAN juga mengumumkan sesi khusus penghormatan bagi Ratu Sirikit dalam pembukaan KTT 2025 di Kuala Lumpur.

Sekretaris Jenderal ASEAN, Dr. Kao Kim Hourn, menyebut Ratu Sirikit sebagai “figur bersejarah yang mempererat diplomasi dan solidaritas Asia Tenggara”.
Sementara itu, masyarakat Thailand berbondong-bondong datang ke kompleks Istana Dusit untuk menyalakan lilin dan berdoa di depan potret mendiang Ratu.


Upacara Pemakaman dan Masa Duka Nasional

Pemerintah Thailand menetapkan jadwal upacara pemakaman kenegaraan pada 27 Oktober 2025, di Grand Palace Bangkok.
Prosesi penghormatan diikuti oleh ribuan warga dan tamu negara sahabat, serta disiarkan langsung oleh Thai PBS dan Channel 7.

Untuk menghormati masa berkabung, pemerintah menunda sejumlah kegiatan publik dan hiburan nasional hingga Desember 2025.
Bagi masyarakat Thailand, kepergian Ratu Sirikit bukan sekadar kehilangan figur kerajaan, tetapi juga kehilangan simbol keibuan dan persatuan bangsa.


Analisis: Dampak Sosial dan Politik

Wafatnya Ratu Sirikit terjadi di tengah masa transisi politik Thailand setelah pergantian kabinet tahun ini.
Keputusan Anutin untuk tetap di Bangkok dianggap tepat secara politik, karena menunjukkan kesetiaan terhadap monarki — nilai yang masih sangat dihormati rakyat.

Analis regional menilai bahwa dalam jangka pendek, absennya PM Thailand tidak akan memengaruhi peran negaranya di ASEAN.
Namun, dalam jangka panjang, masa berkabung nasional dapat memperlambat pembahasan agenda ekonomi dan perdagangan lintas kawasan yang melibatkan Thailand sebagai pusat logistik regional.


Penutup

Kematian Ratu Sirikit membawa duka mendalam bagi rakyat Thailand dan mengguncang dinamika diplomasi kawasan Asia Tenggara.
Keputusan Perdana Menteri Anutin Charnvirakul untuk absen dari KTT ASEAN mencerminkan prioritas nasional dan penghormatan terhadap nilai monarki yang kuat di Thailand.

Dalam suasana duka, Thailand menegaskan komitmennya untuk tetap aktif di ASEAN melalui jalur diplomatik, sembari menghormati salah satu figur paling dicintai dalam sejarah negeri Gajah Putih.
Warisan Ratu Sirikit dalam budaya, sosial, dan diplomasi akan terus dikenang sebagai penanda era kejayaan dan keteladanan monarki modern Thailand.

Baca Juga: “China Guncang Militer, 9 Petinggi Dipecat karena Dugaan Korupsi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *