palitaliawines.com – Wanita Vietnam Nguyet Anh Duong, ilmuwan AS kelahiran Vietnam, menjadi sorotan setelah bom penghancur bunker (GBU-57 MOP) yang dikembangkannya digunakan dalam serangan AS ke fasilitas nuklir Iran. Wanita 65 tahun ini dijuluki “The Bomb Lady” karena perannya dalam menciptakan senjata strategis seperti BLU-118/B untuk Pentagon.
“Baca juga : Telur Orak-arik Sempurna ala Restoran Ungkap Chef Profesional”
Dari Pengungsi Vietnam ke Ilmuwan Penting AS
Duong melarikan diri dari Saigon menjelang kejatuhan Vietnam Selatan pada 1975. Setelah meraih gelar teknik kimia di University of Maryland, ia bergabung dengan Indian Head Naval Surface Weapons Center pada 1983. Karyanya fokus pada bahan peledak berkekuatan tinggi, termasuk bom termobarik untuk Perang Afghanistan pasca-9/11.
Kontribusi Kunci dalam Teknologi Militer
Bom BLU-118/B ciptaannya dirancang untuk menghancurkan terowongan Al Qaeda tanpa membahayakan pasukan AS. Teknologi ini kemudian berevolusi menjadi GBU-57 MOP yang digunakan di Iran. “Ini hasil kerja tim kecil komunitas pengembang bahan peledak,” ujar Duong kepada New York Times.
Nguyet Anh Duong: Kisah “The Bomb Lady” Vietnam di Balik Senjata Penghancur Bunker Iran
Kritik dan Pembelaan
Beberapa kelompok HAM mengkritik penggunaan senjata penghancur bunker karena risiko korban sipil. Namun, Duong menegaskan bahwa teknologi ini justru meminimalkan korban dengan presisi tinggi. “Kami selalu memprioritaskan akurasi untuk mengurangi dampak kolateral,” jelasnya dalam forum keamanan nasional 2023.
Warisan dan Refleksi
Duong menerima Samuel J. Heyman Medal (2007) atas jasanya. Ia menegaskan, “Tujuan utama kami memastikan tentara pulang dengan selamat.” Kini pensiun di Maryland, ia bangga menjadi warga AS: “Negara ini memberi kami kesempatan kedua.”
Serangan ke Iran memicu debat etis tentang peran ilmuwan dalam pengembangan senjata. Namun, Wanita Vietnam Nguyet Anh Duong berpendapat, “Senjata hanyalah alat—manusia yang menentukan penggunaannya.”
“Baca juga : Prabowo Targetkan 80.000 Koperasi Desa Aktif Tahun Ini”
Kisah Duong mencerminkan paradigma kompleks di balik pengembangan senjata modern – antara kemajuan teknologi, etika pertahanan, dan harapan akan perdamaian. Sebagaimana katanya: “Senjata terbaik adalah yang tidak perlu digunakan, tetapi harus ada untuk mencegah perang yang lebih besar.” Perjalanannya dari pengungsi hingga ilmuwan elite AS tetap menjadi inspirasi sekaligus bahan refleksi mendalam.




Leave a Reply