palitaliawines.com – Gustika Hatta cucu proklamator sekaligus Wakil Presiden pertama RI, menyita perhatian dalam peringatan 80 tahun kemerdekaan Indonesia. Tak hanya hadir secara fisik di Istana Merdeka, Gustika juga melontarkan kritik keras terhadap pemerintah melalui unggahan di media sosialnya. Kritik itu menyoroti isu hak asasi manusia (HAM), demokrasi, serta proses politik yang dinilainya menyimpang dari semangat konstitusi.
“Baca juga : Tol IKN Seksi 3A Selesai, Tersambung ke Tol Balikpapan”
Gustika menyebut sulit merayakan kemerdekaan jika rakyat masih dibayangi luka sejarah dan pelanggaran HAM yang belum terselesaikan. Ia menyinggung penculikan aktivis 1998 dan menuding pemimpin saat ini sebagai “presiden penculik” serta “wakil anak haram konstitusi”, merujuk pada kontroversi hukum dalam pencalonan wakil presiden.
Di tengah perayaan kenegaraan, Gustika tampil mengenakan kebaya hitam dan kain batik slobog, busana yang dalam tradisi Jawa sering dipakai saat berkabung. Ia menjelaskan bahwa pilihannya mengenakan slobog merupakan simbol protes diam atas kondisi bangsa yang menurutnya sedang dalam keadaan duka.
“Berkabung bukan tanda putus asa. Ini bentuk kejujuran pada sejarah dan cara menagih janji konstitusi,” tulis Gustika di Instagram.
Tak hanya mengangkat isu lama, Gustika juga menyoroti kekerasan terhadap warga sipil yang terjadi baru-baru ini di Pati, Jawa Tengah. Baginya, kejadian itu menjadi bukti bahwa ruang demokrasi semakin menyempit.
Reaksi publik pun terbelah. Ada yang memuji keberanian dan konsistensi Gustika menyuarakan kritik, tetapi tidak sedikit yang menilai pernyataannya berlebihan.
“Baca juga : Balik Nama Sertifikat Warisan Dikenakan Biaya, Ini Rinciannya”
Meski kontroversial, suara Gustika Hatta memperkuat narasi bahwa generasi muda masih peduli dan berani bersikap kritis. Peringatan 80 tahun RI kali ini bukan hanya momentum seremoni, tapi juga ajang refleksi kondisi demokrasi dan keadilan sosial di Indonesia hari ini.




Leave a Reply